Kisah Tragis Teuku Markam, Mantan Orang Terkaya di Indonesia yang Sumbang 28kg Emas di Pucuk Monas Namun Berakhir di Penjara

Monumen Nasional alias Monas menjadi ikon bagi Kota Jakarta.

Bagian yang paling menonjol dari Monas yaitu emas di puncaknya yang memiliki bobot sekitar 38kilogram.

Dari jumlah berat tersebut, sebagian besar yaitu 28kg merupakan sumbangan dari pria asal Aceh bernama Teuku Markam.

Dikutip Grid.ID dari Gridhot.id melansir Wikipedia, Teuku Markam adalah pengusaha kaya Aceh pada jaman pemerintahan Presiden RI Soekarno.

Lahir di Panton Labu, Aceh Utara tahun 1925, Teuku Markam tak sempat lulus SD.

Pendidikan yang ditempuh Teuku Markam hanya sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat).

Sejak kecil, Teuku Markam hidup sebagai anak yatim piatu.

Teuku Markam kehilangan ayahnya, Teuku Marhaban saat berusia 9 tahun.

Sementara itu, ibunda Teuku Markam sudah meninggal dunia lebih dahulu.

Sepeninggal kedua orangtuanya, Teuku Markam diasuh oleh sang kakak, Cut Nyak Putroe.

Ketika dewasa, Teuku Markam terlibat dalam pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat yang didanai oleh Bank Dunia.

Meski menjadi lulusan militer, tapi perjuangan Teuku Markam sama sekali jauh dari asalnya itu.

Teuku Markam justru terjun ke dunia bisnis dengan mendirikan PT. Karkam dan banyak berjasa dalam pembangunan Indonesia.

Teuku Markam berjuang melalui hartanya yang berlimpah dan sumbangsihnya sangat bermanfaat bagi bangsa.

Berkat jasa Teuku Markam, Presiden Soekarno sangat berterima kasih kepada pria asal Aceh tersebut.

Sayangnya, meski begitu berjasa kepada negara, Teuku Markam malah terhina oleh bangsanya sendiri.

Dikutip Grid.ID dari Serambinews.com, Teuku Markam sempat menduduki peringkat orang terkaya di Indonesia.

Di saat masyarakat tak terpikir menggeluti bisnis sebagai profesi, Teuku Markam justru sudah melakukannya.

Teuku Markam muncul dan bergelut dengan banyak bisnis hingga akhirnya menjadi saudagar yang sukses.

Berbagai bisnis ditelateni Teuku Markam mulai dari ekspor impor, besi beton, sampai plat-plat baja.

Dengan segala macam bisnis yang digelutinya, tak heran akhirnya Teuku Markam menjadi sangat kaya.

Kekayaan Teuku Markam dapat dibuktikan dengan sumbangan emas 28kilogram untuk puncak monas yang saat ini masih bisa terlihat.

Selain menyumbang emas Teuku Markam juga ikut andil dalam pembebasan lahan Senayan untuk menjadi pusat olahraga.

Tak hanya itu, Teuku Markam juga ikut membiayai berbagai macam yang terkait dalam melepaskan Indonesia dari penjajahan Belanda.

Sayangnya, nasib baik tak selalu mengiringi perjalanan hidup Teuku Markam.

Pasalnya, justru tak dianggap dan diakui oleh negara meskipun memiliki jasa yang besar untuk Indonesia.

Saat pemerintahan Soeharto, Teuku Markam diciduk dan dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan terlibat dengan PKI.

Dia juga dianggap sebagai kaum penyembah Soekarno dan akhirnya Teuku Markam dijebloskan ke penjara pada tahun 1966.

Penderitaan Teuku Markam di penjara tampaknya belum usia.

Pasalnya, PT. Karkam miliknya yang telah berjasa demi pembangunan ekonomi diambil dan dijadikan milik negara.

Lebih ironis lagi, tak ada harta sedikitpun yang disisakan untuk keluarga dan anak-anaknya.

Hal tersebut membuat keluarga Teuku Markam hidup terlunta-lunta.

Kondisi tersebut begitu bertolak belakang pasa kehidupan mereka sebelumnya sangat berkecukupan.

Bahkan, ketika Teuku Markam keluar dari penjara di tahun 1974, dia dan keluarga juga masih kesulitan untuk kembali mendapatkan hartanya lagi.

Teuku Markam kehilangan ayahnya, Teuku Marhaban saat berusia 9 tahun.

Sementara itu, ibunda Teuku Markam sudah meninggal dunia lebih dahulu.

Sepeninggal kedua orangtuanya, Teuku Markam diasuh oleh sang kakak, Cut Nyak Putroe.

Ketika dewasa, Teuku Markam terlibat dalam pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat yang didanai oleh Bank Dunia.

Meski menjadi lulusan militer, tapi perjuangan Teuku Markam sama sekali jauh dari asalnya itu.

Teuku Markam justru terjun ke dunia bisnis dengan mendirikan PT. Karkam dan banyak berjasa dalam pembangunan Indonesia.

Teuku Markam berjuang melalui hartanya yang berlimpah dan sumbangsihnya sangat bermanfaat bagi bangsa.

Berkat jasa Teuku Markam, Presiden Soekarno sangat berterima kasih kepada pria asal Aceh tersebut.

Sayangnya, meski begitu berjasa kepada negara, Teuku Markam malah terhina oleh bangsanya sendiri.

Dikutip Grid.ID dari Serambinews.com, Teuku Markam sempat menduduki peringkat orang terkaya di Indonesia.

Di saat masyarakat tak terpikir menggeluti bisnis sebagai profesi, Teuku Markam justru sudah melakukannya.

Teuku Markam muncul dan bergelut dengan banyak bisnis hingga akhirnya menjadi saudagar yang sukses.

Berbagai bisnis ditelateni Teuku Markam mulai dari ekspor impor, besi beton, sampai plat-plat baja.

Dengan segala macam bisnis yang digelutinya, tak heran akhirnya Teuku Markam menjadi sangat kaya.

Kekayaan Teuku Markam dapat dibuktikan dengan sumbangan emas 28kilogram untuk puncak monas yang saat ini masih bisa terlihat.

Selain menyumbang emas Teuku Markam juga ikut andil dalam pembebasan lahan Senayan untuk menjadi pusat olahraga.

Tak hanya itu, Teuku Markam juga ikut membiayai berbagai macam yang terkait dalam melepaskan Indonesia dari penjajahan Belanda.

Sayangnya, nasib baik tak selalu mengiringi perjalanan hidup Teuku Markam.

Pasalnya, justru tak dianggap dan diakui oleh negara meskipun memiliki jasa yang besar untuk Indonesia.

Saat pemerintahan Soeharto, Teuku Markam diciduk dan dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan terlibat dengan PKI.

Dia juga dianggap sebagai kaum penyembah Soekarno dan akhirnya Teuku Markam dijebloskan ke penjara pada tahun 1966.

Penderitaan Teuku Markam di penjara tampaknya belum usia.

Pasalnya, PT. Karkam miliknya yang telah berjasa demi pembangunan ekonomi diambil dan dijadikan milik negara.

Lebih ironis lagi, tak ada harta sedikitpun yang disisakan untuk keluarga dan anak-anaknya.

Hal tersebut membuat keluarga Teuku Markam hidup terlunta-lunta.

Kondisi tersebut begitu bertolak belakang pasa kehidupan mereka sebelumnya sangat berkecukupan.

Bahkan, ketika Teuku Markam keluar dari penjara di tahun 1974, dia dan keluarga juga masih kesulitan untuk kembali mendapatkan hartanya lagi.

Penderitaan Teuku Markam di penjara tampaknya belum usia.

Pasalnya, PT. Karkam miliknya yang telah berjasa demi pembangunan ekonomi diambil dan dijadikan milik negara.

Lebih ironis lagi, tak ada harta sedikitpun yang disisakan untuk keluarga dan anak-anaknya.

Hal tersebut membuat keluarga Teuku Markam hidup terlunta-lunta.

Kondisi tersebut begitu bertolak belakang pasa kehidupan mereka sebelumnya sangat berkecukupan.

Bahkan, ketika Teuku Markam keluar dari penjara di tahun 1974, dia dan keluarga juga masih kesulitan untuk kembali mendapatkan hartanya lagi.

Demikianlah pokok bahasan Artikel ini yang dapat kami paparkan, Besar harapan kami Artikel ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, Penulis menyadari Artikel ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar Artikel ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang

Sumber:www.grid.id

0 Response to " Kisah Tragis Teuku Markam, Mantan Orang Terkaya di Indonesia yang Sumbang 28kg Emas di Pucuk Monas Namun Berakhir di Penjara "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel